Jejak Jelajah Kasuari 

Jauh di pedalaman jantung hutan hujan tropis, seorang fotografer satwa liar, seorang ornitolog (ahli burung) dan tiga pemandu adat setempat menyusuri wilayah sang Kasuari Gelambir Tunggal—dalam sebuah misi untuk mengabadikan sosok raksasa hutan Papua yang penuh misteri.

Kokok ayam jantan saling bersahut-sahutan di udara pagi yang dingin di Lembah Malagufuk, Distrik Makbon, Provinsi Papua Barat Daya, Indonesia. Matahari masih bersembunyi di balik cakrawala, bersiap terbit dan menumpahkan cahaya pertamanya ke bentang alam yang menakjubkan tersebut. Di dalam sebuah rumah kayu sederhana, tiga pemuda masyarakat adat Moi bersiap meninggalkan kehangatan pagi, melangkah ke dalam hutan—menyatu dengan lapisan suara hutan hujan tropis yang perlahan terjaga dari tidurnya.

Yance dan Nimbrot Kalami bersama sahabat mereka, Bastian Magablo, dengan hati-hati mengemasi tiga kamera jebak. Kamera jebak tersebut akan mereka bawa jauh ke dalam Hutan Malagufuk untuk menggantikan kamera sebelumnya yang rusak akibat hujan dan kelembapan yang tak kenal ampun. Ini adalah bulan ketiga berturut-turut mereka memasuki hutan, menapaki jalur yang sama berulang kali, memeriksa dan memasang ulang kamera di titik-titik yang telah dipilih dengan seksama.

Bagi ketiganya, hutan terasa seperti taman bermain. Sejak kecil, mereka tumbuh bersama hutan, sebagai teman setia yang tak pernah pergi. Seperti banyak orang Papua lainnya, mereka memandang hutan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri. Hutan bukan sekadar tempat untuk dijelajahi, melainkan sumber pangan, perlindungan dan cerita-cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di sinilah orang berburu dan meramu, menopang kehidupan sehari-hari dari apa yang disediakan oleh hutan.

Pemasangan kamera jebak adalah pengalaman baru bagi para pemuda Moi tersebut—sebuah pengalaman yang tumbuh seiring berkembangnya ekowisata di Pulau Nugini (Papua), yang mulai muncul di kawasan ini sekitar tahun 2014. Yance, Nimbrot dan Bastian termasuk para perintis, generasi pertama anak muda Malagufuk yang menjadi pemandu ekowisata. Desa mereka yang terletak di jantung Hutan Klasow, adalah hamparan hutan hujan tropis yang luas di kawasan Kepala Burung, Papua, Indonesia. Membentang lebih dari 130 mil persegi, wilayah ini menyimpan salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati besar di Bumi.

Burung-burung Cenderawasih adalah daya tarik utama bagi para pengamat burung yang datang ke Malagufuk dari tempat-tempat di luar Indonesia seperti Tiongkok, Eropa, hingga Amerika Serikat.

“Biasanya mereka datang untuk burung—terutama Cenderawasih,” kata Nimbrot Kalami. “Lalu ada Ekidna, hewan aneh yang kami sebut Babi Landak. Ada juga burung-burung lain, seperti Dara-Mahkota (Mambruk) dan JulangPapua. Dan satu lagi—Kasuari. Seekor burung besar yang sangat sulit untuk dilihat.”

Menemukan seekor Kasuari—apalagi menyaksikannya langsung di alam liar—selalu menjadi tantangan. Burung ini pemalu dan selalu waspada, bergerak nyaris tanpa suara di bawah tajuk hutan yang rapat. Namun justru karena sifatnya yang sulit dijumpai itulah, raksasa legendaris ini menjadi pengalaman impian bagi para pengunjung—langka, berwibawa dan tak terlupakan, bahkan ketika ia hanya bisa dipandang dari kejauhan.

Para pengamat burung sering kali hanya mendengar suara panggilannya yang berat dan bergema, menggulung di antara pepohonan hutan hujan. Atau mereka menemukan jejak kaki besarnya yang bercabang tiga, tercetak jelas di lumpur—pertanda bahwa kehadiran “purba” itu begitu dekat, meski sang Kasuari tak pernah mendekat atau terlihat jelas.


Burung besar yang tak dapat terbang ini—menjulang sekitar 1,5 hingga 1,8 meter tingginya, dengan satu gelambir khas di leher—adalah inti dari misi tiga sahabat asal Malagufuk tersebut. Tujuan mereka adalah mendokumentasikan Kasuari Gelambir Tunggal yang menjelajah hutan-hutan dataran rendah Papua. Program pemasangan kamera jebak yang mereka jalankan di Hutan Malagufuk merupakan bagian dari sebuah proyek film dokumenter yang diprakarsai oleh Cornell Lab of Ornithology.

Bekerja bersama fotografer satwa liar ternama Tim Laman serta Yoki Hadiprakarsa, seorang ornitolog dari Yayasan Rekam Nusantara, Yance, Nimbrot dan Bastian terlibat dalam sebuah upaya yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yakni mengungkap kehidupan tersembunyi Kasuari Gelambir Tunggal, raksasa paling misterius di Papua.

Hasil film dokumenter yang diproduksi oleh Cornell Lab’s Center for Conservation Media dan dirilis pada Desember 2025 ini, mengulas peran kasuari dalam ekosistem hutan hujan. Tujuannya adalah membantu masyarakat di Indonesia dan juga di seluruh dunia, memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan lebih akurat tentang Kasuari serta pentingnya burung ini bagi kesehatan hutan.

In Search of the Northern Cassowary. Ikuti perjalanan fotografer satwa liar Tim Laman, ornitolog Indonesia Yoki Hadiprakarsa dan para pemandu hutan adat setempat saat mereka menelusuri hutan hujan dataran rendah dan menggunakan kamera jebak untuk menangkap gambar raksasa hutan Papua yang misterius. Pindai kode QR untuk menonton film berdurasi 14 menit ini, diproduksi oleh Cornell Lab of Ornithology, Center for Conservation Media.
Show Transcript
[Bird calls] [Yoki Hadiprakarsa narrating]: There is a bird few have seen in the forest of Papua, Indonesia. It exists in relative silence and lives behind signs of its existence. This creature is secretive and also holds a secret. It keeps the forest’s future, an unknowing architect that builds the forest with every move, every step. In this place, people and forests live together. Without this bird, the forests as we know them will cease to exist. [Bird calls] [Tim Laman speaking Indonesian]: It’s very easy to use and it can take pictures at night too. [Yoki Hadiprakarsa narrating]: Malagufuk, a small village in the lowland forests of West Papua sits within the world’s third largest rainforest, a place of exceptional biodiversity and ecological importance. Here, traditional knowledge and scientific inquiry unite.

Forest guides Bastian Maggablo, Nimrod Kalami, and Yanja Kalami are working alongside Tim Laman and myself, Yoki Hadiprakarsa, to deploy camera traps, non-invasive tools that let us observe wildlife without disturbing it.

[Tim Laman onscreen]: The species that we’re trying to document here is called the Northern Cassowary. It’s found along the northern side of the big island of New Guinea.

The cassowary is a species that is really important for the forest, but it’s not that well known. But the populations are declining as habitat is reduced and in many areas it’s facing a lot of hunting pressure.

[Yance Kalami speaking Indonesian]: In my opinion there are still many cassowaries in this area, but if you want to see them, it’s really hard. They don’t live in one place. Today they could be eating fruit here, but tomorrow they’ll move on to someplace else. [Yoki Hadiprakarsa narrating]: Though people rarely see them, cassowaries play a profound ecological role. They help build this forest by consuming large fruit and dispersing seeds far away from the parent tree. But detecting this bird challenges us. It moves silently through dense vegetation, leaving only footprints, droppings, and occasionally rustles in the undergrowth. [Tim Laman onscreen]: You may hear birds of paradise calling. You can hear hornbills flying overhead and running across tracks of massive cassowaries in the muddy parts of the trail here.

Here’s a pile of fruits. There’s a cassowary track right here. See the toe? It’s as big as my hand.

[Cassowary calling] [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: Wow. [Tim Laman onscreen]: So, he’s not too far away. Maybe just a couple hundred meters. [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: Yeah. [Tim Laman voiceover]: We’ve been exploring the forest, finding locations where we see signs of cassowaries, things like a fruiting tree, animal trails, clay licks, and we’ve been placing out these cameras now for the past week or so. They are very big, but they are very hard to see in the forest. They’re very elusive and they’re not so predictable. [Bird calls and music building] [Voices offscreen]: Wow. Oh, huge. [Tim Laman]: So, now we’re in the Papua, the third biggest rainforest in the world. [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: Unbelievable. The fig trees when it’s fruiting is like a supermarket in the rainforest. [Tim Laman onscreen]: Yeah. [Yoki Hadiprakarsa speaking in Indonesian]: Very big! I haven’t seen anything this big in a long time. [Yoki Hadiprakarsa speaking in English]: Even their pandan tree is also gigantic. [Tim Laman]: It’s amazing to be in a forest where all these big trees are still here, right? They haven’t been cut down. All intertwined with the bird life. [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: It’s a good example that Papuan forest is not just for the Papuan, not just for the Indonesian, but also for the world because the roles to absorbing the carbon and you know maintaining the climate, right? [Tim Laman]: Yeah. They say this is one of the ironwood trees, really slow growing tree. So it could be hundreds of years old. [Yoki Hadiprakarsa]: Oh man. [Music] [Tim Laman]: This could be an interesting place to put a camera. We got a nice view of the forest with the big tree behind there. And we’ve got a trail coming along the river bank here close to the river. And we think that uh this is place that be used by cassowaries as they move through this area. [Yoki Hadiprakarsa]: Yeah, I think that’s good. This bird is one of the heaviest birds living in the world. [Tim Laman]: Yeah. How much do they weigh? [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: Uh I’m now 70. Yes. About my weight. [Tim Laman onscreen]: About your weight? Like 60, 70 kilo. [Yoki Hadiprakarsa]: 60, 70 kilos. [Tim Laman]: Wow. And then how tall? [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: How tall you are? [Tim Laman onscreen]: I’m about 190 cm. [Yoki Hadiprakarsa]: Yeah. And 170 is probably about [Tim Laman onscreen]: So right about about our height—between us. [Yoki Hadiprakarsa]: Yes. Between us. Between us. It’s a huge huge bird. [Tim Laman]: That’s a big bird. Yeah. [Tim Laman]: So that’s the biggest animal in the New Guinea rainforest, right? There’s no big mammals here. There’s no big mammals at all. [Yoki Hadiprakarsa]: Yeah. Yeah. [Tim Laman]: So the bird is the biggest animal. [Yoki Hadiprakarsa]: Yeah. In Papua. Even though it’s huge bird, it’s difficult to see, right? It’s so elusive. [Tim Laman]: Yeah. [Yoki Hadiprakarsa]: The cassowary has a short digestive system. So it means when swallowing this big_the seeds will come out harmlessly. [Tim Laman]: Yeah. [Yoki Hadiprakarsa]: So that’s why you know they also effective dispersing the seeds. [Tim Laman]: Yeah. And probably no other bird that can disperse this seed. [Yoki Hadiprakarsa]: Oh yeah. It’s big for sure. [Tim Laman]: But right underneath the tree. I mean the seed could germinate here but then it’s just competing with the mother tree. Right. [Yoki Hadiprakarsa]: Mother tree, yes. [Tim Laman]: So it’s a big benefit to the species to the tree if the seeds are spread… [Yoki Hadiprakarsa]: …far away from the mother tree by a… [Tim Laman]: …by a cassowary. [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: This is a huge pile of cassowary poops. This is a good example of the ecological roles of the cassowary. While in the sky we have hornbills who are also dispersing the seed. And on the ground in Papua we have one of the largest living birds. [Music and bird calls] [Speaking Indonesian] [Music] [Music and bird calls] [Speaking Indonesian] [Music and bird calls] [Tim Laman onscreen]: The camera’s fogged again? [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: Yeah. [Tim Laman onscreen]: Oh my goodness. [Yoki Hadiprakarsa narrating]: Slowly, these forest secrets begin to be revealed. The camera captures many surprises. Each one offering a glimpse into the rich biodiversity that hides among the trees. We experience moments of success, but the cassowary stay just out of reach. Tantalizingly close, yet never fully seen. [Tim Laman onscreen]: Oh, we got a part of a cassowary. Come on, turn around. Come back. We got a cassowary butt. [Yoki Hadiprakarsa narrating]: Filming cassowaries takes more than technology. It requires persistence, precision, local knowledge and a deep respect for the forest rhythms. For months we wait, watch, wonder. Then as if answering us, [Music] [People exclaiming in Indonesian and English] [Tim Laman onscreen] That’s amazing. [Speaking Indonesian]: It worked! It’s a good spot, yes?. Yeah, he’s there! Extraordinary. [Music] [Tim Laman]: We know from scientific research that the cassowaries have a unique parental care system where the male takes care of the chick, not the female. The female lays the egg, but then the male incubates the egg and then takes care of the chick. We were able to capture several different aged chicks from a really small one up to a juvenile, but still with the father.

We even caught a moment where the father seems to be showing the chick what it can eat.

[Music and bird calls] [Tim Laman voiceover]: Here’s the track of a male casawary followed by his chick. [Yoki Hadiprakarsa narrating]: In following the Northern Cassowary, we’ve come to understand more than just the bird. We’ve seen how life moves through this forest. Carried in beaks and bellies, scattered in silence, and nurtured by time. [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: You want to try it, Tim? It’s good. [Tim Laman]: Yeah? [Yoki Hadiprakarsa]: Yeah. [Tim Laman]: You sure it’s not one that already went through a cassowary? [Yoki Hadiprakarsa laughing] I think this is still fresh. It has a sweet and a good acidity. [Tim Laman]: Yeah. Definitely in the mango family, right? [Yoki Hadiprakarsa]: It’s mango family for sure. Yeah. Nice. [Tim Laman onscreen]: The cassowaries, they don’t really seem to enjoy the flavor of their fruits. They just like straight down. [Yoki Hadiprakarsa onscreen]: Yeah. And then on the digestive will be basically just squeeze the juice out of it and then just release it. [Tim Laman]: Yeah. [Yoki Hadiprakarsa]: Because what we saw is still intact everything, right? Even the flesh is still there. [Tim Laman]: Yep. [Yoki Hadiprakarsa narrating]: Cassowaries sustain the forest, but so do the people of Malagufuk who call this forest home. They serve as the guardians of this forest, protecting both cassowary and canopy with quiet determination. Their futures are bound together. Imagine this forest without their unseen stewards, without cassowaries to carry seeds across the land. The forest as we know it will be unable to renew itself. But with each fruit swallowed, with each seed scattered, the future of the forest is sustained. This is the cassowary’s timeless role. One that will safeguard Papua’s forest for generations yet to come. [Music] [Yance Kalami speaking Indonesian]: My hope is for this forest to be known to the world. My hope, for all of us, the families of Malagufuk, and for our children, and the next generation—is that hopefully, the forests will be protected forever. That’s all. [Music and bird calls] [Bird calls] [Loud cassowary call] [Cassowary call with other bird calls]

End of Transcript

Memadukan Teknologi dan Pengetahuan Tradisional 


“Kasuari itu bertubuh sangat besar, tetapi luar biasa sulit untuk dilihat,” ujar Tim Laman, yang selama dua dekade terakhir telah melakukan puluhan perjalanan ke Papua untuk memotret dan merekam satwa hutan hujan—dari burung-burung cenderawasih hingga rangkong dan kini, untuk pertama kalinya, Kasuari Gelambir Tunggal.

Karena Kasuari begitu sulit dijumpai di alam liar, pengetahuan ilmiah tentang burung ini masih sangat terbatas. Inilah yang membuat proyek ini menjadi sangat penting—bukan hanya untuk memahami Kasuari itu sendiri, tetapi juga untuk membantu masyarakat mengenali perannya dalam menjaga kesehatan hutan.

Menurut Tim Laman, awal mula proyek kamera jebak ini berangkat dari sebuah kebetulan yang menyenangkan. Pada tahun 2023, ia pertama kali datang ke Desa Malagufuk untuk memotret burung Cenderawasih. “Lalu saya tahu bahwa di sini juga ada Kasuari,” kenangnya. “Kami melihat jejak-jejaknya… dan saat itu saya menyadari sesuatu yang penting. Kasuari adalah simbol Provinsi Papua Barat. Ia ada di bendera, di lambang provinsi—tetapi kebanyakan orang sebenarnya tidak benar-benar mengenalnya.”

“Kasuari itu sulit ditebak dan sulit dilacak,” terang Tim Laman mengenai tantangan merekam burung ini. “Dengan Rangkong, kita bisa menemukan pohon yang sedang berbuah dan melihat mereka datang setiap hari. Kasuari berbeda, mereka menjelajah wilayah yang sangat luas. Melihatnya secara langsung saja sudah sulit, apalagi merekamnya. Karena itu, kamera jebak menjadi solusi. Kami bekerja dengan para pemandu lokal dari Malagufuk yang mengenal hutan ini secara mendalam. Merekalah yang membantu kami mengidentifikasi pohon-pohon berbuah yang kemungkinan akan dikunjungi Kasuari.”

Sebagai pemburu ulung dan pelacak hutan yang terampil, Yance, Nimbrot dan Bastian mengetahui dengan tepat di mana tanda-tanda kemungkinan Kasuari akan muncul. Mereka mengenali jalur-jalur favorit dan lokasi makan burung itu, meskipun sang raksasa bergerak laksana bayangan di balik semak-semak rapat. Dengan membaca jejak kaki dan kotorannya, mereka memberi arahan kepada Tim Laman dan Yoki—tentang titik-titik terbaik untuk menempatkan kamera.

“Mereka bisa membedakan apakah jejak Kasuari itu masih baru atau sudah lama. Kadang mereka berkata, ‘Jejak ini baru beberapa jam,’” ujar Yoki. “Itu luar biasa. Saya pernah bertanya apakah ada tempat di mana semua satwa datang untuk minum, semacam sumber mineral alami. Mereka langsung memberi tahu satu lokasi yang mereka kenal—tempat mamalia dan burung sama-sama berkumpul. Lokasi itu kemudian menjadi salah satu titik kunci kami untuk merekam gambar Kasuari.”

Tim Laman dan Yoki menempatkan kamera jebak tepat di lokasi yang disarankan oleh ketiga pemandu tersebut. Hasilnya membenarkan naluri mereka. Pada awalnya, kamera-kamera itu hanya merekam sepotong kaki atau setengah tubuh burung raksasa tersebut. Penyesuaian pun dilakukan—jarak kamera, ketinggian dari lantai hutan, hingga sudut pengambilan gambar, semuanya disempurnakan. 

 Secara keseluruhan, 18 kamera dipasang selama delapan bulan di 14 lokasi berbeda. Empat kamera gagal berfungsi akibat kelembapan yang terus-menerus, hujan lebat dan kondisi hutan yang ekstrem, sehingga harus diganti. Namun pada akhirnya, ketekunan mereka terbayar dengan gambar-gambar luar biasa yang memperlihatkan kasuari bergerak di dalam hutan. 

 “Saya sangat senang bisa membantu,” kata Yance. “Akhirnya saya bisa melihat kasuari dengan jelas melalui kamera yang kami pasang.” Bagi Yance dan kawan-kawan, pengalaman ini bukan semata soal penghasilan—melainkan tentang belajar. “Sebelumnya kami tidak tahu bahwa yang membesarkan anak-anak Kasuari justru pejantan,” ujar Yance. “Kami kira, seperti kebanyakan hewan, induk betinanya yang merawat. Ternyata Kasuari berbeda.” 

“Kami sejak dulu tahu di mana harus mencari Kasuari. Kami mengenali jejak dan suaranya,” kata Nimbrot menambahkan. “Tetapi melalui proyek ini, kami belajar sesuatu yang baru bahwa Kelm Bell,” (sebutan masyarakat setempat untuk Kasuari Gelambir Tunggal), “sangat penting bagi hutan kami. Sekarang kami mengerti mengapa orang menyebut Kasuari sebagai petani hutan.”

Hutan hujan Papua berutang besar pada Kasuari Gelambir Tunggal. Burung pemakan buah berukuran raksasa ini kerap disebut sebagai “petani hutan”, karena perannya yang krusial dalam menyebarkan biji-biji dari begitu banyak spesies pohon penting.

Hutan yang Dibangun oleh Burung 

Ketiga spesies Kasuari yang ada di dunia, yakni Kasuari Gelambir Tunggal atau yang disebut sebagai Kasuari Utara, Kasuari Gelambir Ganda atau Kasuari Selatan dan Kasuari Kerdil (yang memiliki tinggi sekitar satu meter, hanya setengah ukuran dua spesies lainnya)—dapat ditemukan di Pulau Papua. Namun, Kasuari Gelambir Ganda juga menyebar hingga Australia bagian Utara dan Kepulauan Maluku, sementara Kasuari Kerdil terdapat di Kepulauan Solomon. Kasuari Gelambir Tunggal, sebaliknya, hanya hidup di pulau Papua. 

 “Ada orang-orang yang mengatakan Kasuari itu berbahaya. Kakek saya pun dulu berkata begitu,” ujar Yance. “Mereka besar, bisa menendang dan cakar mereka tajam seperti pisau. Mungkin itu benar. Tapi bagi kami, ketika bertemu mereka di hutan, justru merekalah yang takut. Saat melihat kami, biasanya mereka langsung lari.” 

 Di balik reputasinya sebagai burung berbahaya, tersembunyi kebenaran yang lebih mendalam: Kasuari adalah spesies kunci, yang sangat penting bagi kesehatan dan regenerasi hutan hujan tropis. Tanpa mereka, banyak hutan di Papua perlahan akan kehilangan daya hidupnya. 

 “Kasuari sering disebut sebagai petani hutan atau tukang kebun hutan,” ujar Yoki. “Mereka membawa biji-bijian jauh ke dalam hutan dan menyebarkannya melalui kotoran yang kaya nutrisi.” 

Kasuari merupakan pemakan buah terbesar di hutan dataran rendah Papua. Tubuhnya yang kuat dan paruhnya yang kokoh memungkinkan burung ini menelan buah-buah besar secara utuh, termasuk buah dari pohon Terminalia—raksasa tropis yang dapat menjulang lebih dari 30 meter dan menjadi pilar kayu keras dalam arsitektur hutan hujan yang kompleks. Para peneliti telah menemukan biji dari lima spesies pohon Terminalia di dalam kotoran Kasuari.

Sebagai pemakan buah, Kasuari memainkan peran ekologis yang sangat krusial, karena dalam banyak hal, hutan Papua dibangun oleh burung. Sekitar 90 persen spesies pohon tropis di Papua bergantung, setidaknya sebagian, pada hewan seperti Kasuari untuk menyebarkan bijinya. Tanpa Kasuari, banyak pohon akan gagal beregenerasi secara alami—terutama di wilayah hutan yang terganggu atau terdeforestasi. Kasuari membantu menjaga siklus kehidupan hutan, memastikan bahwa pohon-pohon muda tumbuh untuk menggantikan yang tua. 

 Peran ini menjadi semakin penting karena hutan Papua tidak memiliki mamalia pemakan buah berukuran besar seperti yang ditemukan di Hutan Amazon atau Kongo—misalnya monyet dan kera besar—satwa yang mampu menyebarkan biji berukuran besar ke jarak yang jauh. Di Papua, peran penyebar biji berukuran besar itu dijalankan oleh Kasuari. 

Related Stories

Karena Kasuari menjaga sekaligus menciptakan generasi baru hutan hujan, burung ini ikut melindungi salah satu gudang keanekaragaman hayati terkaya di dunia. PulauPapua—yang terbagi antara Indonesia dan Papua Nugini—menyimpan hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia, setelah Amazon dan Kongo. Sekitar 70 persen daratan Pulau Papua masih tertutup hutan hujan, yang menampung sekitar 14.000 spesies tumbuhan—sekitar 60 hingga 70 persennya tidak ditemukan di tempat lain di Bumi. 

Lebih dari 700 spesies burung hidup di sini, termasuk 38 spesies burung Cenderawasih, bersama ratusan jenis reptil, amfibi, serangga dan mamalia seperti Kanguru Pohon. Hampir 7 persen keanekaragaman hayati daratan dunia terkonsentrasi di wilayah ini—sebuah kawasan yang luasnya bahkan kurang dari 0,5 persen permukaan daratan planet kita.

Setiap spesies di hutan hujan Papua—dari pepohonan yang menjulang tinggi hingga burung-burung berwarna mencolok—memainkan peran unik dalam menjaga jalinan ekologi ini tetap utuh. Di antara burung-burung, Kasuari, Cenderawasih, dan Julang atau Rangkong, menonjol sebagai aktor penting dalam ekosistem hutan Papua.

“Burung memainkan peran krusial dalam ekosistem—sebagai penyerbuk, pengendali hama dan indikator kesehatan lingkungan. Namun di Papua, Kasuari secara harfiah membangun hutan,” ujar ilmuwan Cornell Lab, Edwin Scholes, yang telah melakukan penelitian di Papua selama lebih dari 25 tahun dan merupakan salah satu pendiri Birds-of-Paradise Project. “Kasuari adalah satu-satunya hewan yang cukup besar untuk menelan dan menyebarkan biji-biji besar pohon hutan hujan. Dengan sistem pencernaan yang pendek, biji-biji itu melewati tubuhnya tanpa rusak dan dapat dibawa hingga sejauh 30 kilometer dari pohon induknya.”

“Tanpa Kasuari yang menjalankan fungsi tak tergantikan ini, banyak spesies pohon tidak akan mampu beregenerasi dan hutan seperti yang kita kenal tak akan dapat memperbarui dirinya,” lanjut Edwin Scholes. “Mereka benar-benar arsitek hutan hujan.”

Meski Kasuari tak tertandingi dalam menyebarkan biji berukuran besar, mereka bukan satu-satunya tukang kebun hutan. Ekosistem Papua dibentuk oleh komunitas penyebar biji yang beragam, masing-masing dengan peran yang berbeda. Rangkong, dengan paruh panjang dan kemampuan terbang jarak jauh, menyebarkan buah berukuran sedang ke wilayah yang luas—sering kali menghubungkan fragmen-fragmen hutan yang terpisah akibat aktivitas manusia.

Cenderawasih memakan buah-buahan kecil, menyebarkan biji secara lokal di sekitar pohon-pohon tempat pejantan menampilkan tarian kawin mereka yang rumit. Burung pemakan buah berukuran kecil, seperti Merpati, juga membantu menanam hutan dengan menyebarkan jutaan biji kecil yang membentuk lapisan bawah hutan yang rapat—pelindung penting bagi pohon-pohon muda. Bahkan Kelelawar pemakan buah, meski bukan burung, sama pentingnya sebagai mamalia nokturnal yang menyebarkan biji dan serbuk sari bagi tumbuhan yang mekar di malam hari.

Bersama-sama, jejaring penyebar biji ini menjaga keberagaman hutan hujan. Dalam prosesnya, Kasuari serta burung-burung dan Kelelawar lainnya memberikan jasa penting bagi seluruh dunia, papar Edwin Scholes. Sebagai bagian dari sistem hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia, hutan Papua menyimpan sekitar 15 miliar ton karbon di pepohonan dan tanah, serta secara aktif menyerap lebih dari 50 juta ton karbon dioksida dari atmosfer setiap tahunnya.

“Hutan-hutan ini termasuk solusi alami paling kuat yang masih kita miliki untuk membatasi kenaikan suhu global,” jelas Edwin Scholes. “Hutan Papua juga menjadi rumah bagi sedikitnya 5 persen spesies tumbuhan dan satwa di dunia, menjadikannya sebuah pusat keanekaragaman hayati yang tak tergantikan. Apa yang terjadi di hutan Papua akan memengaruhi stabilitas iklim dan keanekaragaman hayati di seluruh planet.” 

 Sejumlah pegiat konservasi di Indonesia telah mengusulkan sebuah Skema Kredit Kasuari sebagai cara untuk menghimpun dana guna melindungi hutan hujan ini. “Jika kita ingin mempertahankan Kasuari dan hutan yang mereka bangun, kita membutuhkan lebih dari sekadar niat baik—kita memerlukan mekanisme yang memberi penghargaan nyata bagi upaya konservasi,” ujar Yoki, ornitolog yang telah bekerja lebih dari 20 tahun di hutan Indonesia. “Skema Kredit Kasuari bisa menjadi salah satu jalan ke depan, dengan mengaitkan kredit keanekaragaman hayati dan karbon pada manfaat nyata bagi masyarakat lokal.” 

Model serupa saat ini tengah diuji coba di Australia, di kawasan Wet Tropics, Queensland, di mana para pemilik lahan—termasuk komunitas adat—menerima insentif finansial untuk melestarikan dan memulihkan habitat, dengan verifikasi melalui pemantauan ilmiah dan kredit kualitas hutan. Pemerintah, korporasi dan lembaga filantropi dapat membeli kredit ini untuk mendukung konservasi. 

Menurut Yoki, pendekatan serupa dapat diadaptasi di Papua—melindungi Kasuari, memulihkan hutan yang terdegradasi, sekaligus menciptakan sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi komunitas adat setempat. 

Perpaduan antara kebijakan dan pendekatan ekonomi akan dibutuhkan untuk menopang perjuangan masyarakat adat Papua dalam menjaga hutan yang menjadi rumah mereka—sebuah oasis di dunia yang kian menghangat. Tanpa pengelolaan berbasis komunitas, tutur Yoki, hilangnya hutan-hutan yang dibangun oleh burung—terutama yang dibentuk oleh Kasuari—hanyalah soal waktu. 

“Ancaman terbesar bagi hutan Papua saat ini adalah alih fungsi lahan untuk tanaman industri,” ujarnya. “Ini merupakan bahaya serius bagi Lembah Klasow dan bagi seluruh Papua.”, tegasnya. 

“Kelapa sawit adalah ancaman terbesar bagi kami, orang Moi,” tambah Yance Kalami. “Kami belajar dari pengalaman. Kami tidak ingin hutan ini—rumah kami dan rumah Kasuari—menghilang karena alam dihancurkan.”

Kasuari Gelambir Tunggal sering disebut sebagai “petani hutan”, karena berperan menyebarkan biji-biji dari spesies pohon penting di hutan hujan Papua.

Warisan Leluhur Bernama Egek 

Setelah delapan bulan mengejar kasuari dengan bantuan kamera, tiga sahabat muda dari Suku Moi itu sampai pada satu kesadaran yang jernih—melindungi Kasuari berarti melindungi hutan dan melindungi tanah yang mendefinisikan jati diri mereka. 

 “Kami belajar begitu banyak dari pemasangan kamera dan dari bekerja bersama Tim dan Yoki,” ujar Yance Kalami. “Sekarang kami benar-benar memahami betapa pentingnya Kasuari bagi hutan kami, terutama bagi kami sebagai orang Papua.” Ia bercerita bahwa di masa lalu, Kasuari kadang-kadang diburu—bukan sebagai sasaran utama, melainkan ketika burung itu tak sengaja terperangkap dalam jerat hutan. Kini, hal itu telah berubah. Saat ini, masyarakat tidak lagi berburu di hutan kecuali babi hutan dan rusa, yang bukan spesies asli. Kasuari, bersama burung dan mamalia endemik Papua lainnya, tidak lagi dianggap sebagai hewan buruan. 

 Bagi orang Moi, melindungi hutan berarti melindungi kehidupan itu sendiri. “Hutan adalah segalanya bagi kami,” jelas Yance. “Kami hidup di hutan. Semua makanan kami berasal dari sana. Hutan itu seperti seorang ibu—karena ia memberi kami makanan, tumbuhan, obat-obatan, segalanya. Hutan memiliki air dan memenuhi semua kebutuhan rumah kami.” 

 Untuk melindungi “sang ibu”, Kampung Malagufuk membuat komitmen kolektif yang mendalam untuk menjaga hutannya. Amos Kalami, kepala kampung, mengatakan bahwa komunitasnya dengan tegas melindungi apa yang ia sebut sebagai harta terbesar mereka: hutan adat. 

“Kami bersyukur karena leluhur kami telah menjaga hutan ini untuk kami,” ujar Amos Kalami. “Mereka melarang penebangan pohon secara sembarangan. Kayu besi tidak boleh ditebang sama sekali—hanya pohon yang sudah tumbang yang boleh dimanfaatkan untuk kebutuhan kampung. Itulah sebabnya hutan Malagufuk masih utuh hingga hari ini. Kami tidak ingin merusak apa yang telah dipercayakan leluhur kepada kami.” 

 Malagufuk menerapkan sanksi tegas bagi penebangan liar atau perburuan satwa selain babi dan rusa. “Siapa pun yang melanggar aturan kampung—berburu Cenderawasih, Kasuari, atau satwa seperti Ekidna—akan dikenai denda sebesar 50 juta rupiah,” jelas Amos. 

Namun, meski perlindungan lokal ini kuat, Amos Kalami menegaskan bahwa ancaman kehilangan hutan di seluruh Lembah Klasow dan Papua masih sangat nyata. “Pada tahun 2014, tiba-tiba ada survei besar-besaran untuk kelapa sawit,” kenangnya. “Kami tidak diberi tahu sebelumnya. Karena kami sudah berkomitmen menjaga hutan ini, kami menolaknya. Peristiwa itulah yang justru mendorong kami untuk mempertahankan hutan ini dengan lebih kuat lagi.”

Bahaya yang ditimbulkan oleh kelapa sawit bukanlah hal baru. Agus Kalalu, seorang aktivis muda dari komunitas adat Mala Moi, dan tinggal di desa yang terletak tepat di sebelah Malagufuk, di jantung Hutan Klasow, mengatakan bahwa orang Moi telah lama menolak perluasan perkebunan. Selama lebih dari dua dekade, Agus Kalalu berkeliling tanah adat Moi, menggunakan film-film pendek untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong desa-desa memilih ekowisata sebagai alternatif kelapa sawit. 

“Kelapa sawit pertama kali masuk sekitar tahun 2000,” terang Agus. “Perkebunan dibuka di distrik Segun, Klamono, dan Moisegen. Perusahaan membuat banyak janji, tetapi setelah mereka beroperasi, tidak ada manfaat nyata.” 

Alih-alih kesejahteraan, masyarakat justru menyaksikan kehancuran hutan mereka. Sumber air menjadi langka, pangan semakin sulit diperoleh, dan lapangan kerja yang dijanjikan tak pernah terwujud. “Kami belajar dari kerusakan itu,” ujar Agus. “Karena itulah sekarang, kami semua di Mala Moi—tanah leluhur orang Moi—menolak kelapa sawit.” 

Kasuari Gelambir Tunggal oleh Daniel López‑Velasco | Ornis Birding Expeditions / Macaulay Library

Tahun 2021 menjadi titik balik. Pemerintah provinsi berkomitmen melindungi sisa hutan di Papua Barat dengan mencabut sejumlah izin kelapa sawit. Hingga kini, baik Provinsi Papua Barat maupun provinsi baru Papua Barat Daya terus mempertahankan komitmen tersebut terhadap perlindungan hutan.

Bagi Agus, Malagufuk menjadi contoh yang sangat kuat. 

“Saya orang Moi dan tinggal di Klaili. Kami juga menjaga hutan kami,” katanya. “Tetapi saya benar-benar mengagumi Malagufuk, kampung tetangga kami di utara. Hingga hari ini, hutan mereka tetap tak tersentuh. Tidak satu pun pohon tumbang oleh tangan manusia. Itulah yang paling saya hormati.” 

Namun, meskipun ancaman kelapa sawit mereda, bahaya itu belum sepenuhnya hilang. Izin perkebunan yang dikeluarkan di tingkat nasional masih menjadi kekhawatiran. Agus dan para pemuda Moi lainnya memilih untuk tidak diam. Mereka berpindah dari kampung ke kampung di seluruh tanah Moi, berbagi kisah tentang dampak buruk perkebunan monokultur—sekaligus menawarkan alternatif, seperti ekowisata, sebagai sumber penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat Papua. 

More Photography by Tim Laman

Menurut Amos Kalami, kepala kampung Malagufuk, menjaga hutan telah memberikan manfaat nyata bagi warganya. “Ekowisata membuktikannya,” ujarnya. “Kami melindungi hutan, kami melindungi Kasuari, kami melindungi burung-burung kami dan kami memperoleh penghasilan. Wisatawan datang, memotret burung-burung kami, pohon-pohon kayu besi dan kampung kami. Mereka mengambil gambar, dan mereka meninggalkan uang.” 

Amos menegaskan bahwa orang Moi memiliki kewajiban untuk menegakkan hukum adat yang diwariskan dari generasi ke generasi demi menjaga kesehatan hutan. “Leluhur kami mengajarkan kami untuk melindungi alam, karena dari sanalah kami hidup,” katanya.  

“Lindungi hutan, lindungi pohon, lindungi burung. Orang Moi memiliki komitmen yang disebut Egek. Ini adalah larangan adat—diakui oleh tradisi dan juga oleh gereja.” “Area-area tertentu tidak boleh dimanfaatkan karena di sana terdapat tempat keramat, mata air, dan pohon-pohon raksasa,” lanjutnya. “Egek juga berlaku di Hutan Malagufuk ini.” 

Menurut Yance, yang kini berubah dari pemburu menjadi penjaga kamera jebak di Malagufuk, komitmen terhadap Egek terwujud nyata dalam sosok Kasuari Gelambir Tunggal. 

“Semakin saya belajar betapa pentingnya Kasuari, semakin besar motivasi saya untuk melindungi hutan kami—rumah kami,” katanya. “Ketika saya mengajak anak saya, Deborah, masuk ke hutan, saya teringat bagaimana Kasuari jantan membesarkan anak-anaknya. Saya ingin Kasuari tetap hidup agar hutan ini tetap utuh—bukan hanya untuk anak-anak saya, tetapi agar seluruh dunia dapat merasakan manfaat dari hutan Papua.”

Tentang Penulis 

Wahyu Mulyono adalah jurnalis, pembuat film documenter dan pendiri Yayasan Rekam Nusantara, sebuah lembaga yang berfokus pada penuturan kisah-kisah berdampak tentang alam, budaya, dan konservasi di Indonesia. Selama lebih dari dua dekade, ia telah menulis dan memproduksi liputan untuk Mongabay, Kompas TV–Indonesia, National Geographic Indonesia, serta Tempo—salah satu majalah berita mingguan dengan oplah terbesar di Indonesia.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow